Haidar Ali – a name a thousand story

life is more beatiful than everything you've judge ::

Jogja multi etn…

Jogja multi etnis… Mataku tertuju pada ratusan motor yang berjejer di parkiran kampus UGM saat aku sedang ada kegiatan seminar di kampus negeri terbaik di Jogja dan terbesar kedua di Indonesia setelah Universitas Indonesia Depok Jakara, besarnya bisa jadi lebih dari 10x lapangan sepak bola. yang aneh pada saat itu adalah kulihat hampir semua nomor polisi motor motor tersebut adalah nomor polisi luar jogja dari A – Z aku tidak sulit untuk mencarinya disini bukti bahwa banyak warga pendatang yang hidup di Jogja, berkat adanya keberagaman itu aku jadi tahu plat nomor daerah-daerah lain, A untuk Serang Banten, B intuk Jakarta, AB untuk Jogja, E untuk Kuningan, F untuk Bogor, BG untuk Palembang, DK untuk Bali, DR untuk lombok, P untuk Jember, Z untuk Garut, KH untuk kalimantan tengah dan banyak lagi.. kalo mau nyari di parkiran Malioboro juga bnyak tuh plat nomor begono, Jogja segala bentuk wajah dan warna kulit hidup damai jadi satu menjadikan kota ini begitu istimewa untuk dijadikan tempat tinggal.

Kampus hanya menjadi sebagian dari tempat aktualisasi diri para pendatang di jogja tapi disisi lain para pengusaha dan bisinisman juga banyak yang menggantunggan hidupnya disini, menjadikan jogja kian berwarna, sebut saja warung burjo salah satu ikon kota kuningan yang telah menjadi satu dalam budaya dan tongkrongan asyik warga jogja setelah angkringan. Warung burjo tidaklah sulit untuk ditemukan dikota ini, hampir disetiap sudut dan permepatan akan terpampang nama “burjo mang waya”, “katineung”, “putra sunda” dan nama2 unik lainnya khas tanah parahyangan (sorry yahh mang nama warung maneh katulis).

Eksistensi warga kuningan di kota pelajar ini memang tidak diragukan, bahkan keberadaan warung burjo telah menggeser dominasi angkringan sebagai tempat makan murah meriah bagi kaum menengah kebawah, burjo ketan ireng, nasi telor atau hanya sekedar masak indomie disini juga boleh, murah meriah wajar kalo orang pada suka. Warga Kuningan menjadi pendatang yang lumayan eksis dalam menjalankan bisnis dijogja.

Selain warga kuningan ada banyak lagi etnis yang menggantungkan hidup dengan berdagang di Jogja, semakin menambah semarak kota ini dengan para pendatang. Madura menjadi komunitas berikutnya, ada banyak orang madura disini, disudut-sudut pasar, disekitar perempatan atau bahkan keliling mengitari perkampungan jika mendengar bunyi lonceng krincing2 atau melihat pedagang sate ayam sudah barang tentu itu orang madura, menjajakan makanan khas daerahnya.. sepanjang trotoar nol kilometer depan museum benteng vredeburg juga ada banyak kumpulan orang madura disana mengibaskan bau asap menyengat khas sate ayam bumbu kacang untuk menggoda rasa ingin mencoba para turis di sekitar jalan malioboro

Selain sate ayam orang madura juga sebagian menjajakan makanan lain yaitu burjo madura, yang aneh menurutku semua gerobak burjo madura ini dimanapun tempatnya pasti sama dengan warna spanduk yang sama dan rasa yang ga jauh berbeda.. tp full of madura,, rasa karapan sapi pokok’e, jujur lebih enak burjo madura daripada burjo ketan ireng milik orang kuningan, (sorry deui loh mang, ieu mun formalitas wee, ulah dilebetken kahati..haha)

Orang Madura memang terkenal hobi merantau, tidak hanya di Jogja tetapi di kota kota besar lain juga ada banyak disinggahi orang madura, asal jangan maen carok yahhh bos.. selama Jogja dijaga dengan baik tidak ada perselisihan, pertikaan dan kriminalitas maka akan masih tetap istimewa untuk siapa saja yang tinggal disini.

Masih dengan makanan khas, para aremania pun tak mau ketinggalan menjajakan bakso unik khas malang dan dijual berkeliling menggunakan gerobak di perkampungan, rata-rata berlogo sama “BAKSO MALANG AREMANIA” dalam hatiku, (bangga bener nih aremania,hee. But it’s ok everythings good if you’re do it seriously..)

Yang paling mendominasi mungkin burjo kuningan, akan tetapi ada satu lagi yang ga kalah dominan bahkan banyak disukai orang Jogja untuk santap makan malam termasuk aku, apa yahh?? Pecel Lele, terserah percaya atau tidak, dari 6 tempat jual pecel lele di Jogja yang pernah aku datengi 5 diantaranya adalah orang Lamongan asli, tonggoku cak.. ternyata laskar Joko tingkir juga ga mau kalah dengan orang orang Kuningan di Jogja, bagus lah toh aku juga demen makan penyetan kalo malem..hee.

Yang ga bisa ditebak n kadang bo’ong tuh roti bakar Bandung, atau warung makan padang.. label boleh menunjukkan nama daerah tapi penjualya laen mas bro, (upss keceplosan bahasa jogjanya) yang jual roti bakar malah orang dari daerah lain, kebanyakan sih gitu. Termasuk penulis yang dulu sempat mencoba peruntungannya dengan menjual bakaran roti di pinggir jalan ireda museum perjuangan, penuh perjuangan pokok’e kota ini. Sama halnya dengan warung makan padang yang ternyata banyak dijual oleh orang jawa tulen, hebatnya orang jawa bisa menguasai resep khas tanah minang seolah tak ada yang cacat, rasanya pas, kalo kata pak bondan “mak nyuss..” maklum bro,  aku juga penyuka makanan padang jadi tahu dimana warung padang yang enak di jogja, mau?? Makanya dateng ke Jogja..

Jogja kini menjadi kota multi etnis, menyamai ibu kota yang banyak dihuni para pendatang untuk mencari rupiah, percaya atau enggak ada yang bilang 80% dari peredaran rupiah ada di Jakarta sedang sisanya ada didaerah sleuruh Indonesia (aku pernah denger ini, tapi lupa sumbernya jd sebaiknya ditelaah baik2 lagi statemen itu), wajar jika Jakarta banyak diminati oleh para perantau meski harus rela hidup susah karena kebutuhan hidup disana bisa dua kali lipat dengan hidup di Ngayogyokarto hadiningrat, Jogja tuh murah mas bro.. sampe inget ungkapan temenku kalo ada jual makanan mahal di Jogja berarti dia telah menyalahi amandemen undang2 perpanganan jogjakarta.

Suatu waktu seorang anggota DPR dari dinas kependudukan Jogjakarta menyebutkan secara statistik Jogjakarta kalah standar dengan kota kota besar lain dalam hal penghasilan, tapi disisi lain Jogjakarta mengungguli kota kota besar tersebut dalam hal kesejahteraan masyarakat, loh kok bisa?? Sudah dibilang hidup di jogja tuh ga perlu kaya mas bro, dengan penghasilan sedang di Jogja sudah akan bisa hidup nyaman disini, kesejahteraan tercapai. Jogja akan tetap istimewa untuk para pendatang dan untuk warga pribuminya selama semua bisa menjaga adat istiadat dengan baik dan menghindari perselisihan, meski banyak pedagang dari berbagai daerah, meski banyak mahasiswa dari penjuru nusantara yang belajar di Jogja tapi pesona kota ini tidak akan pernah hilang, selama kita semua penghuni kota ini bisa menjaganya dengan baik.

Haidar – Gresik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: