Haidar Ali – a name a thousand story

life is more beatiful than everything you've judge ::

tafsir al-qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah

            Al Qur`an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Setidaknya itulah yang diindikasikan oleh surat al Baqarah ayat 185. Di samping itu, dalam ayat dan surat yang sama, diinformasikan juga bahwa al Qur`an sekaligus menjadi penjelasan (bayyinaat) dari petunjuk tersebut sehingga kemudian mampu menjadi pembeda (furqaan)-antara yang baik dan yang buruk. Di sinilah manusia mendapatkan petunjuk dari al Qur`an. Manusia akan mengerjakan yang baik dan akan meninggalkan yang buruk atas dasar pertimbangannya terhadap petunjuk al Qur`an tersebut.

            Al Qur`an adalah kalaamullaah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dengan media malaikat Jibril as. Dalam fungsinya sebagai petunjuk, al Qur`an dijaga keasliannya oleh Allah swt. Salah satu hikmah dari penjagaan keaslian dan kesucian al Qur`an tersebut adalah agar manusia mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan benar-menurut Sang Pencipta (baca: Allah ‘azza wa jalla) sehingga kemudian selamat, baik di sini, di dunia ini dan di sana , di akhirat sana . Bagaimana mungkin manusia dapat menjelajahi sebuah hutan belantara dengan selamat dan tanpa tersesat apabila peta yang diberikan tidak digunakan, didustakan, ataupun menggunakan peta yang jelas-jelas salah atau berasal dari pihak yang tidak dapat dipercaya? Oleh karena itu, keaslian dan kebenaran al Qur`an terdeterminasi dengan pertimbangan di atas agar manusia tidak tersesat dalam mengarungi kehidupannya ini dan selamat dunia-akhirat.

            Menurut Syamsuddin Arif, Ph. D, dalam bukunya yang berjudul Orientalis dan Diabolisme Intelektual, ‘serangan’ para orientalis terhadap otentisitas al Qur`an begitu telah lama dan masih gencar dilakukan. Kenyataan ini semakin memprihatinkan dengan munculnya beberapa sarjana muslim yang ‘ikut-ikutan’ meniru para orientalis tersebut. Nashr Hamd Abu Zayd (Mesir), Fazlur Rahman (Palestina), dan Mohamed Arkoun (Aljazair) adalah beberapa nama yang dimaksud. Mereka, setelah menempuh studi Islam di Barat, ‘silau’-atas dasar kerendahan diri (inferiority complex) karena tidak memahami khazanah peradaban Islam-dengan perkembangan keilmuan di Barat, khususnya dalam bidang interpretasi teks kitab suci (baca: Bibel) sehingga dengan ‘brutal’ mengambil ‘mentah-mentah’ apa yang ada di Barat untuk kemudian digunakan terhadap apa yang ada dalam Islam.

            Hermeneutik adalah salah satu ‘oleh-oleh’ dari Barat yang ‘diujicobakan’ oleh para sarjana muslim semacam Nashr Hamd Abu  Zayd di atas untuk kemudian diterapkan dalam memahami (baca: tafsiir) kitab suci umat Islam, yaitu al Qur`an al Karim. Sebagai sebuah metodologi memahami sebuah teks (baca: kitab suci), Hermeunetik lahir sebagai (semacam) ‘konsekwensi logis’ dari teks-teks Bibel yang memang secara inheren begitu problematik, salah satunya yang terkait dengan banyaknya versi-versi Bibel yang bermunculan dan cenderung menegasikan yang lainnya (kontradiktif). Hal ini disebabkan bahwa Bibel yang ‘disucikan’ oleh umat Kristen sekarang ini sebenarnya bukanlah kitab suci. Dia hanya karangan-karangan manusia yang jelas-jelas tidak ‘suci’-dari dosa. Prinsip-prinsip dasar dari Hermeunetik seperti, antara lain sebuah teks tidak ada yang suci oleh karena itu layak dikritisi keabsahannya, sebuah teks terikat dengan konteks sejarah di mana ia lahir oleh karena itu bersifat relatif dan temporer, dan yang lainnya tidak lebih dari sekedar bentuk ‘akomodasi’ (baca: rasionalisasi) dari kerancuan Bibel itu sendiri agar dapat dipahami dan diterima oleh umat Kristen. Sampai sekarang, konsep trinitas yang menjadi fondasi keberagamaan umat Kristenpun masih menimbulkan kontroversi dan belum ada kata sepakat di kalangan umat Kristen sendiri.

Hal seperti di atas tidak terjadi dalam sejarah al Qur`an, dan umat Islam umumnya, dari awal turun al Qur`an hingga sekarang. Al Qur`an berbeda dengan Bibel yang dipegang umat Kristen sekarang. Al Qur`an lahir dari bacaan, bukan teks. Malaikat Jibril mendatangi nabi Muhammad saw. di Gua Hira tidak dengan tulisan surat al `Alaq ayat satu sampai lima tetapi dengan bacaan “iqra`”-dan seterusnya. Al Qur`an sampai kepada kita dengan media yang mutaawatir. Maksudnya, banyak sekali para penghafal al Qur`an, pada masa turunnya hingga sekarang. Fakta ini menyampaikan kita pada kesimpulan bahwa mustahil ada pemalsuan atau perubahan dalam al Qur`an karena dari kebanyakan para pengahafal itu substansi dari bacaan al Qur`annya relatif sama kecuali dalam qiraa`ah (dialek bacaan). Ini adalah kesepakatan jumhuur (mayoritas) ulama.

Dari kasus di atas, nampak sekali bahwa kita, umat nabi Muhammad saw., cenderung ‘silau’ dengan perkembangan keilmuan dan metodologi ilmiah di Barat dan di sisi lain tidak secara serius mendalami khazanah peradaban kita sendiri (baca: Islam). Hal ini mengakibatkan kita memakai metodologi-metodologi Barat untuk mengekplorasi sumber ajaran agama kita (baca: al Qur`an dan as Sunah) yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan dan pemahaman yang justru membuat pelaku dan umat Islam yang mengikutinya semakin jauh dari Allah swt. atau ‘minimalnya’ mengaleniasi Allah swt. dari ranah publik atau dari dunia ini (baca: sekularisme). Atas hal ini, maka penggalian dan publikasi kembali khazanah-khazanah keilmuan Islam, khususnya yang terkait dengan interpretasi al Qur`an sangat mendesak untuk dilakukan untuk mencegah lahirnya “Nashr Hamd Abu Zayd” yang lain sehingga kita mampu memahami al Qur`an dengan benar yang terpantul dari semakin dekatnya kita kepada Allah swt. berdasarkan pemahaman kita tersebut.

A.                Pengertian Tafsir dan Ta`wil

1)                  Tafsir

Lafazh tafsiir, secara etimologis bermakna menjelaskan; mengungkap; memaparkan; menerangkan sesuatu (teks/nash) yang abstrak. Kata tafsiir sendiri ber-wazan (baca: sebanding; sama) dengan wazan (baca: akar bentuk kata dalam ilmu sharaf; morfologi) taf’iil yang berasal dari kata (mashdar) al fasr(الفسر) . Sinonim dari kata kerja al fasr (baca: fassara) adalah abaana (أَبَا نَ) yang juga berarti menjelaskan. Kata at tafsiir dan al fasr mempunyai arti menjelaskan sesuatu yang tertutup.

Menurut az Zarkasyi tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitaabullaah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, menjelaskan makna-maknanya, dan mengeluarkan hukum dan hikmahnya.

Menurut Abu Hayyan, tafsir, secara  terminologis merupakan ilmu yang membahas tentang metode mengucapkan lafazh-lafazh al Qur`an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dari makna-makna yang dimungkinkan baginya (baca: penetapan hukum) ketika tersusun dari hal-hal yang melengkapinya (Manna’ Khalil Qaththan: 2006, terjemahan).

Dari dua definisi dapat disimpulkan bahwa tafsir merupakan pengetahuan sistemik tentang bagaimana membaca al Qur`an dengan benar dan indah sesuai dengan ketentuan tajwid dan tahsiin atau sesuai dengan qira`ah yang diakui validitasnya. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memahami bacaan al Qur`an tersebut untuk menemukan petunjuk-petunjuknya bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tahap ini merupakan tahap yang dimaksud dengan “mengungkapkanyang tertutup”. Maksudnya, bacaan; teks; nash al Qur`an yang telah dibaca tersebut terdapat petunjuk-petunjuk yang secara implisit diletakkan oleh Allah swt. dalam firman-firman-Nya (baca: al Qur`an). Hal-hal yang implisit inilah yang kita ungkap dan kita buka sehingga jelas dan dapat kita pahami maksudnya. Tahap terakhir adalah bagaimana menetapkan hukum-hukum dari petunjuk-petunjuk tersebut-yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Secara umum hukum terbagi menjadi dua, yang boleh dan yang tidak boleh. Pembahasan selanjutnya akan berujung pada kajian ushul fikih.

 

2)                  Ta`wil

Kata ta`wil diambil dari kata aul  (أوْل) yang berarti “kembali” dan “berpaling”. Dalam ilmu sharaf, kata ta`wil(تأويل)  mengadung makna transitif (ta’diyyah) sehingga mempunyai arti mengembalikan dan memalingkan. Variasi makna dari kata ta`wil antara lain (Abu Anwar: 2005):

a)         Kembali atau mengembalikan, yakni mengembalikan makna pada proporsi yang sesungguhnya.

b)         Memalingkan, yakni memalingkan suatu lafazh tertentu yang mempunyai sifat khusus dari makna lahir ke makna batin lafazh itu, karena ada ketetapan dan keserasian dengan maksud yang dituju.

c)         Menyiasati, yakni dalam lafazh tertentu atau kalimat-kalimat yang mempuyai sifat khusus yang memerlukan siasat yang jitu untuk menemukan maksudnya yang setepat-tepatnya.

Menurut sebagian ulama, ta`wil adalah mengembalikan sesuatu kepada tujuan asalnya, yakni menerangkan apa yang dimaksud dari padanya. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa ta`wil merupakan upaya menerangkan salah satu makna yang dapat diterima oleh lafazh (Ash Shiddieqy: 1987)

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan men-ta`wil-kan al Qur`an adalah mengalihkan makna eksplisit/denotatif dari ayat-ayat al Qur`an kepada makna yang lain sehingga pemahaman terhadap ayat tersebut tidak bertentangan dengan jiwa ajaran Islam yang telah pasti.

3)               Perbedaan

Menurut Drs. Abu Anwar, M. Ag. bukunya yang berjudul Ulumul Qur`an : Suatu Pengantar, perbedaan yang diasumsikan dalam ‘hubungan’ antara makna tafsir dan takwil bukanlah perbedaan yang bersifat paradoksal[1]. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan dalam kekhususan masing-masingnya (baca: spesifikasi) dan sifat-sifat dari keduanya. Sungguhpun demikian, ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa tafsir dan ta`wil itu sama, salah satunya Abu ‘Ubadah[2] .

Perbedaan antara keduanya dapat dipaparkan dalam tabel di bawah ini.

 

No.

Tafsir

Ta`wil

1.

Menjelaskan lafazh tunggal

Menjelaskan makna dan susunan kalimat

2.

Menjelaskan makna lafazh yang memiliki satu arti

Menjelaskan makna lafazh yang lebih dari satu (baca: ambigu) karena ada beberapa indikator.

3.

Berkaitan dengan riwaayah

Berkaitan dengan diraayah    

4.

Menjelaskan makna yang diambil dari bentuk yang tersurat (bil ‘ibaarah; eksplisit)

Menjelaskan makna yang diambil dari bentuk yang tersirat (bil isyaarah; implisit)

5.

Menjelaskan ayat-ayat muhkam

Menjelaskan ayat-ayat mutasyaabih

6.

Menjelaskan fenomena

Menjelaskan nomena (hakikat)

 

B.                 Ilmu-Ilmu Penunjang Tafsir

            Tafsir bukanlah aktifitas yang ringan dan sepele. Tidak sembarang orang bisa dan bebas melakukannya. Dalam hal ini, nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa saja yang mengatakan sesuatu mengenai al Qur’an tanpa landasan ilmu atau dengan opininya sendiri, maka ia telah memesan tempat duduknya di neraka” (HR Imam Tirmidzi). Oleh karena itu, dalam menafsirkan sebuah ayat al Qur’an diperlukan ilmu-ilmu lain yang mampu menunjang validitas hasil penafsirannya.

            Dari sisi yang berbeda, ilmu-ilmu ini merupakan syarat bagi seseorang yang akan menafsirkan al Qur`an. Ilmu-ilmu ini wajib dikuasai oleh siapa saja yang akan menafsirkan al Qur`an, tentunya bagi orang yang beragama Islam dan telah dewasa (mukallaf; baligh)

            Ilmu-ilmu yang dapat menunjang kevalidan sebuah penafsiran al Qur’an sangat banyak. Tetapi dalam kesempatan ini hanya akan dibahas beberapa saja diantara ilmu-ilmu tersebut, antara lain:

1)                                                                  Ilmu Nahwu

Nahwu adalah ilmu tentang pokok, yang bisa diketahui dengannya tentang harkat (baris) akhir dari suatu kalimat baik secara i’rab atau mabni (baris atau harkat (syakal) yang dimaksud adalah baris atau harkat terakhir dari suatu kata (dalam bahasa arab disebut kalimah). Misalnya kata اَلْحَمْدُ, maka yang dipelajari dalam ilmu ini adalah harkat terakhir dari kata di atas yaitu dhammah dari huruf dal (ُ د ).

2)                  Ilmu Sharaf

Secara bahasa (lughah) memiliki arti perubahan kata (Kamus Arab-Indonesia Al Munawwir). Sedangkan secara istilah, sharaf adalah perubahan bentuk kata dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, digunakan kata teman, berteman, pertemanan, menemani, ditemani, dan lain-lain. Maka begitu juga dengan bahasa Arab, contohnyaفَعَلَ-يَفْعُلُ-فَعْلاً  dan seterusnya.

3)                 Ilmu Qiraa`aat

Menurut bahasa, qiraa`aat (قرائات) adalah bentuk jamak dari  kata qiraa`ah  قراءة)) yang merupakan isim mashdar dari قَرَأَ yang artinya bacaan. Pengertian qira`at menurut istilah cukup beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh masing-masing ulama yang mendefinisikannya. Berikut ini akan diberikan dua pengertian qira`at menurut istilah.

Qiraa`at menurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan lafal-lafal al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya terbatas pada lafal-lafal al-Qur’an yang memiliki perbedaan pelafalan saja. Ia tidak menjelaskan bagaimana perbedaan qira`at itu dapat terjadi dan bagaimana pula cara mendapatkan qira`at itu.

Ada pengertian lain tentang qira`at yang lebih luas daripada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu pengertian qira`at menurut pendapat al-Zarqani. Al-Zarqani memberikan pengertian qira`at sebagai suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurraa` yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur`an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan thuruq (jalan-jalan sanad) darinya, baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.

Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qiraa`at yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah qira`at, riwayat dan tariqah. Berikut ini akan dipaparkan pengertian dan perbedaan keduanya.

Qira`at adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurraa` tujuh, sepuluh atau empat belas, seperti qira`at Nafi, qira`at Ibn Kasir, qira`at Yaqub dan lain sebagainya.

Sedangkan riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurraa` yang berjumlah tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun dan Nafi atau riwayat Warsy dan Nafi.

Adapun yang dimaksud dengan tariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qira`at dari periwayat qurraa` yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq dan Warsy atau riwayat Warsyi min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan qira`at Nafi min riwayati Warsy min tariq al-Azraq[3].

4)                                                                  Ilmu Ushul Fiqih

Ushul Fiqih (bahasa Arab: أصول الفقه ) adalah ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori dan sumber-sumber secara terinci dalam rangka menghasilkan hukum Islam yang diambil dari sumber-sumber tersebut[4].

Dalam ilmu ini dapat dipahami ijmal, tabyin, ‘aam, khusush, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan, ptunjuk larangan, nasakh[5], dan lain sebagainya yang terdapat dalam ilmu ushul fiqih.

5)                  Ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’

Ilmu Ma’ani mempelajari tentang khasyiat-khasyiat susunan pembicaraan dari jurusan memberi pengertian. Ilmu Bayan mempelajari tentang khasyiat-khasyiat susunan perkataan yang berlainan. Ilmu Badi’ mempelajari keindahan-keindahan pembicaraan sehingga[6] dapat diungkap dimensi estetis dari sebuah pembicaraan.

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat al Qur`an itu sendiri (asbaabun nuzuul).

 

C.                Metode Penafsiran al Qur`an

Setelah membahas perkembangan tafsir di masa nabi Muhammad saw. hingga para sahabat, Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir menyimpulkan bahwa dalam menafsirkan al Qur`an, para sahabat terbagi ke dalam dua madrasah (aliran), yaitu madrasah ahlil atsar dan madrasah ahlil ra`yi[7]. Madrasah ahlil atsar kemudian terkenal dengan metode penafsirannya yang disebut tafsiir bil ma`tsuur (تفسير با لمأثور) dan madrasah ahlir ra`yi kemudian terkenal dengan metode penafsirannya yang disebut tafsiir bil ma’quul( تفسير با لمعقول)

 

Berikut ini akan dibahas masing-masing dari keduanya.

1)                  Tafsiir bil Ma`tsuur (با لمأثور تفسير )

Tafsiir bil Ma`tsuur ialah metode penafsiran yang hanya menafsirkan al Qur`an dengan atsar (kutipan-kutipan dari nabi Muhammad saw.) atau riwayat. Ayat al Qur`an, hadis Rasul dan pendapat-pendapat para sahabat merupakan satu-satunya alat yang digunakan sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al Qur`an[8].

Prosedur dalam proses penafsiran bil ma`tsuur adalah menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, dan atau menafsirkan ayat al Qur`an dengan Sunnah/hadis nabi Muhammad saw., dan atau menafsirkannya dengan keterangan para mufassirin dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para ulama salaf[9].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa meyakini sesungguhnya nabi Muhammad saw. telah menjelaskan kepada para sahabat makna-makna al Qur`an sebagaimana telah menjelaskan kepada mereka lafazh-lafazhnya[10].

Semua ayat-ayat al Qur`an telah dijelaskan oleh nabi Muhammad saw., sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam menafsirkan al Qur`an setelah al Qur`an itu sendiri, kepada para sahabat. Oleh karena itu, untuk menafsirkan al Qur`an maka metode yang tepat adalah mencari hadis yang berkaitan dengan ayat tersebut setelah tidak didapatkan ayat al Qur`an yang lain yang menjelaskan ayat tersebut. Apabila memang tidak ada ayat dan atau hadis nabi Muhammad saw. yang dapat menafsirkan sebuah ayat al Qur`an maka yang digunakan adalah pendapat-pendapat para sahabat karena mereka lebih tahu tentang asbaabun nuzuul dan tingkat keimanan juga intelektualitasnya adalah yang tertinggi di kalangan pengikut Rasulluloh saw.

Tafsir bil ma`tsuur adalah tafsir yang harus diikuti dn dipedomani karena ia adalah jalan yang pengetahuan yang benar dan merupakan jalan paling aman untuk menjaga diri dari ketergelinciran dan kesesatan dalam  memahami al Qur`an[11].

Beberapa kitab tafsir bil ma`tsuur yang terkenal diantaranya tafsir Ibnu Abbas dengan judul Tanwiirul Miqbas min Tafsiiri Ibn Abbas, tafsir at Thabari dengan judul Jamii’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur`an, tafsir Ibnu ‘Atiyyah dengan judul Muharrarul Wajiiz fi Tafsiiril Kitaabil ‘Aziz, dan tafsir Ibnu Katsir dengan judul Tafsiirul Qur`aanul ‘Azhiim (Manna’ Khalil Qaththan: 2006).

2)                  Tafsir bil Ma’quul ( تفسير با لمعقول)

Cara penafsiran bil ma’qul atau lebi populer lagi bir ra`yi menambahkan fungsi ijtihad dalam proses penafsirannya, di samping menggunakan apa yang digunakan oleh tafsir bil ma`tsuur. Penjelasan-penjelasannya bersendikan kepada ijtihad dan akal dan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip bahasa Arab dan adat-istiadat orang Arab dalam mempergunakan bahasanya[12].

Husayn al Dhahaby menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tafsir bir ra`yi adalah penafsiran al Qur`an atas dasar ijtihadnya yang berlandaskan pengetahuannya tentang penuturan bangsa Arab dan arah pembicaraan mereka serta pengetahuannya tentang lafal bahas Arab dan makna yang ditunjukkannya dengan menjadikan syair jahily sebagai acuan dan panduannya. Meskipun demikian, lanjut al Dhahaby, asbaabun nuzuul, naasikh wa mansuukh, dan alat bantu lainnya merupakan pengetahuan-pengetahuan yang tetap harus dikuasai dan digunakan dalam penafsiran ini (Kusmana dan Syamsuri: 2004).

Sedangkan menurut Musa’id Muslim, tafsir bir ra`yi adalah penjelasan terhadap isi kandungan al Qur`an atas misi spesifik dari subjektifitas pribadi mufassir yang hanya berlandaskan ilmu bahasa, pengetahuan budaya Arab, dan syariah yang masih umum. Tegasnya, metode tafsir ini tidak menjadikan atsar nabi Muhammad saw., para sahabat dan tabi’innya sebagai prioritas utama dalam menafsirkan al Qur`an (Kusmana dan Syamsuri: 2004).

Menurut Manna’ Khalil Qaththan dalam bukunya Mabaahits fii ‘Ulumul Qur`an, menafsirkan al qur`an dengan akal dan ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram, tidak boleh dilakukan. Menurutnya, cara penafsiran seperti ini dilakukan oleh mayoritas ahli bid’ah dan madzhab batil dalam rangka melegitimasi golongannya dengan memelintir ayat-ayat al Qur`an agar sesuai dengan kehendak hawa nafsunya.

Kitab-kitab tafsir bir ra`yi diantaranya tafsir ar Razi yang berjudul Mafaatihul Ghaib, tafsir Ibnu Hayyan yang berjudul Al Bahrul Muhiit, dan tafsir az Zamakhsyari yang berjudul Al Kasysyaf ‘an Haqaa`iqit Tanziil wa ‘Uyuunil Aqaawiil fii Wujuuhit Tanwiil (Manna’ Khalil Qaththan: 2006).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Qaththan, Manna’ Khalil. 2006. Studi Ilmu-Ilmu al Qur`an (terjemahan Mabaahits fii ‘Uluumil Qur`an). Jakarta: Litera AntarNusa.

 

Anwar, Abu. 2005. Ulumul Qur`an Suatu Pengantar. Pekanbaru: Penerbit AMZAH

 

Arif, Syamsuddin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Intelektual. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Ash Shiddieqy, M. Hasbi. 1987. Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang.

 

Kusmana dan Syamsuri. 2004. Pengantar Kajian al Qur`an. Jakarta: kerjasam Penerbit Pustaka Al Husna Baru dengan UIN Jakarta Press.

 

Jurnal Online, http://uin-suka.info/ejurnal Powered by Joomla! Generated: 18    December, 2008, 11:40.

 

http: //id. wikipedia. org/ushul-fiqih




[1] Paradoksal berarti bersifat paradoks, seolah-olah terjadi pertentangan (berlawanan) dengan    pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

[2] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir. ( Jakarta, Bulan Bintang, 1987), hlm. 181.

[3]  Jurnal Online, http://uin-suka.info/ejurnal Generated: 18 December, 2008, 11:40.

[4]   http: //id. wikipedia. org/ ushul-fiqih

[5]   M. Hasbi Ash Shiddieqy, op. cit., hlm. 193.

[6]   Ibid. hlm. 193.

[7]   Ibid. hlm. 212-213

[8]   M. Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit., hlm. 213

[9]   Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), hlm. 150.

[10] Manna’ Khalil Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu al Qur`an-terjemahan Mabaahits fii ‘Uluumil Qur`an (Jakarta:    Litera AntarNusa, 2006), hlm. 483.

 

 

[11]   Manna’ Khalil Qaththan, Ibid. hlm. 486

[12]   Ash Shiddieqy, Ibid. hlm. 213.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: