Haidar Ali – a name a thousand story

life is more beatiful than everything you've judge ::

sekulerisme

Fashiluddin ‘anil hayah, atau lebih dikenal dengan istilah sekulerisme bisa dibilang merupakan penyebab utama segala permasalahan ekonomi, social, politik, budaya dan tentu pula agama dalam hal peribadatan. Faham sekulerisme lahir di Prancis pada masa yang dinamakan zaman kegelapan eropa, pada masa itu berlaku system theokrasi dimana masyarakat mengakui bahwa pendeta merupakan wakkil tuhan di dunia sehingga wajib untuk dipatuhi, akan tetapi pada kenyataannya pada saat itu para pendeta tidak berlaku adil kepada umatnya akan tetapi malah berkolusi dengan raja untuk membuat aturan yang sama sekali tidak berpihak kepada rakyat tapi justru malah menindas rakyatnya.  Berangkat dari sanalah rakyat mulai bangkit dan melahirkan aksi besar-besaran yang dinamakn revolusi Prancis. Rakyat berontak tehadp keadaan yang selama ini menindas mereka, hingga lahir ungkapan gantunglah raja teakhir dengan usus pendeta terakhir, menunjukkan bahwa begitu marahnya rakyat saat itu terhadap kepemimpinan raja.

Di bidang politik lahir satu ideology baru sebagai cabang dari sekulerisme, ideology ini dikenal denan sebutan demokrasi, dibidang social lahir ideology liberalism yang mengangkat konsep penyamarataan segala sesuatu, yang paling parah dan paling berbekas adlah ideology kapitalisme di bidang ekonomi yang jelas merupakan penyebab kemelaratan rakyat karena tertindas oleh para kaum kapitalis dalam persaingan merebut pasar. Idolologi kapitalisme tersebu juga merupakan cabang dari faham sekulerisme “pemisahan agama dari kehidupan”.

Manusia sebgai khalifah dimuka bumi, merupakan makhluk yang diciptakan oleh zat yang maha agung Allah SWT seharusnya sadar akan posisinya, arah hidupnya, dan kekurangannya dibandingkan penciptanya. Hal tersebut sudah semestinya sudah dimiliki oleh setiap muslimbahkan orang non muslim sekalipun seharusnya dia tahu bahwa dia diciptakan dibumi ini akan selalu terikat dengan sang pencipta sebagai pengatur hidup mereka. Memang tak semua orang menerima itu orang-orang sosialis misalnya mereka menentang mentah-mentah bahwa hidup mereka didunia terikat dengan tuhan, mereka menganggap bahwa tuhan hanya seperti “The Watch Maker” yang mana setelah menciptakan satu jam dia tidak ada kehendak atau ikatan lai antara dia dengan jam tersebut, sedangkan jam pun terus berputar sendiri tanpa ada yang mengaturnya lagi. Seperti itulah mereka posisi tuhan dalam anggapan mereka.

Dimata orang-orang Kristen barat, kaum kapitalis hidup di dunia hanya untuk bersenang senang, seperti yang telah diatur oleh sang khaliq pencipta manusia dn kehidupan, dimana setelah kehidupan ini selesai mereka telah dijamin dengan adanya srga yang telah dijamin unutk mereka. Satu hal yang perlu dicermati bahwa umat islam yang lemah imannya akan mudah ikut dalam gaya hidup kaum kapitalis ini yakni bagaimana agar kebahagiaan mereka didunia bisa terwujud dengan menghalalkan segala cara tanpa memperdulikan bahwa masih ada kehidupan kedua setelah mereka mati nanti.

Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang apa sebenarnya maksud tuhan (Allah SWT) menciptakan manusia di muka bumi ini  “dan tidaklah aku (Allah) menciptakan jin dan manusia kecuali untuk berbadah kepadaku…”. Dalam ayat tersebut jelas dikatakan apa tujuan hidup sebenarnya

 

Jogja multi etn…

Jogja multi etnis… Mataku tertuju pada ratusan motor yang berjejer di parkiran kampus UGM saat aku sedang ada kegiatan seminar di kampus negeri terbaik di Jogja dan terbesar kedua di Indonesia setelah Universitas Indonesia Depok Jakara, besarnya bisa jadi lebih dari 10x lapangan sepak bola. yang aneh pada saat itu adalah kulihat hampir semua nomor polisi motor motor tersebut adalah nomor polisi luar jogja dari A – Z aku tidak sulit untuk mencarinya disini bukti bahwa banyak warga pendatang yang hidup di Jogja, berkat adanya keberagaman itu aku jadi tahu plat nomor daerah-daerah lain, A untuk Serang Banten, B intuk Jakarta, AB untuk Jogja, E untuk Kuningan, F untuk Bogor, BG untuk Palembang, DK untuk Bali, DR untuk lombok, P untuk Jember, Z untuk Garut, KH untuk kalimantan tengah dan banyak lagi.. kalo mau nyari di parkiran Malioboro juga bnyak tuh plat nomor begono, Jogja segala bentuk wajah dan warna kulit hidup damai jadi satu menjadikan kota ini begitu istimewa untuk dijadikan tempat tinggal.

Kampus hanya menjadi sebagian dari tempat aktualisasi diri para pendatang di jogja tapi disisi lain para pengusaha dan bisinisman juga banyak yang menggantunggan hidupnya disini, menjadikan jogja kian berwarna, sebut saja warung burjo salah satu ikon kota kuningan yang telah menjadi satu dalam budaya dan tongkrongan asyik warga jogja setelah angkringan. Warung burjo tidaklah sulit untuk ditemukan dikota ini, hampir disetiap sudut dan permepatan akan terpampang nama “burjo mang waya”, “katineung”, “putra sunda” dan nama2 unik lainnya khas tanah parahyangan (sorry yahh mang nama warung maneh katulis).

Eksistensi warga kuningan di kota pelajar ini memang tidak diragukan, bahkan keberadaan warung burjo telah menggeser dominasi angkringan sebagai tempat makan murah meriah bagi kaum menengah kebawah, burjo ketan ireng, nasi telor atau hanya sekedar masak indomie disini juga boleh, murah meriah wajar kalo orang pada suka. Warga Kuningan menjadi pendatang yang lumayan eksis dalam menjalankan bisnis dijogja.

Selain warga kuningan ada banyak lagi etnis yang menggantungkan hidup dengan berdagang di Jogja, semakin menambah semarak kota ini dengan para pendatang. Madura menjadi komunitas berikutnya, ada banyak orang madura disini, disudut-sudut pasar, disekitar perempatan atau bahkan keliling mengitari perkampungan jika mendengar bunyi lonceng krincing2 atau melihat pedagang sate ayam sudah barang tentu itu orang madura, menjajakan makanan khas daerahnya.. sepanjang trotoar nol kilometer depan museum benteng vredeburg juga ada banyak kumpulan orang madura disana mengibaskan bau asap menyengat khas sate ayam bumbu kacang untuk menggoda rasa ingin mencoba para turis di sekitar jalan malioboro

Selain sate ayam orang madura juga sebagian menjajakan makanan lain yaitu burjo madura, yang aneh menurutku semua gerobak burjo madura ini dimanapun tempatnya pasti sama dengan warna spanduk yang sama dan rasa yang ga jauh berbeda.. tp full of madura,, rasa karapan sapi pokok’e, jujur lebih enak burjo madura daripada burjo ketan ireng milik orang kuningan, (sorry deui loh mang, ieu mun formalitas wee, ulah dilebetken kahati..haha)

Orang Madura memang terkenal hobi merantau, tidak hanya di Jogja tetapi di kota kota besar lain juga ada banyak disinggahi orang madura, asal jangan maen carok yahhh bos.. selama Jogja dijaga dengan baik tidak ada perselisihan, pertikaan dan kriminalitas maka akan masih tetap istimewa untuk siapa saja yang tinggal disini.

Masih dengan makanan khas, para aremania pun tak mau ketinggalan menjajakan bakso unik khas malang dan dijual berkeliling menggunakan gerobak di perkampungan, rata-rata berlogo sama “BAKSO MALANG AREMANIA” dalam hatiku, (bangga bener nih aremania,hee. But it’s ok everythings good if you’re do it seriously..)

Yang paling mendominasi mungkin burjo kuningan, akan tetapi ada satu lagi yang ga kalah dominan bahkan banyak disukai orang Jogja untuk santap makan malam termasuk aku, apa yahh?? Pecel Lele, terserah percaya atau tidak, dari 6 tempat jual pecel lele di Jogja yang pernah aku datengi 5 diantaranya adalah orang Lamongan asli, tonggoku cak.. ternyata laskar Joko tingkir juga ga mau kalah dengan orang orang Kuningan di Jogja, bagus lah toh aku juga demen makan penyetan kalo malem..hee.

Yang ga bisa ditebak n kadang bo’ong tuh roti bakar Bandung, atau warung makan padang.. label boleh menunjukkan nama daerah tapi penjualya laen mas bro, (upss keceplosan bahasa jogjanya) yang jual roti bakar malah orang dari daerah lain, kebanyakan sih gitu. Termasuk penulis yang dulu sempat mencoba peruntungannya dengan menjual bakaran roti di pinggir jalan ireda museum perjuangan, penuh perjuangan pokok’e kota ini. Sama halnya dengan warung makan padang yang ternyata banyak dijual oleh orang jawa tulen, hebatnya orang jawa bisa menguasai resep khas tanah minang seolah tak ada yang cacat, rasanya pas, kalo kata pak bondan “mak nyuss..” maklum bro,  aku juga penyuka makanan padang jadi tahu dimana warung padang yang enak di jogja, mau?? Makanya dateng ke Jogja..

Jogja kini menjadi kota multi etnis, menyamai ibu kota yang banyak dihuni para pendatang untuk mencari rupiah, percaya atau enggak ada yang bilang 80% dari peredaran rupiah ada di Jakarta sedang sisanya ada didaerah sleuruh Indonesia (aku pernah denger ini, tapi lupa sumbernya jd sebaiknya ditelaah baik2 lagi statemen itu), wajar jika Jakarta banyak diminati oleh para perantau meski harus rela hidup susah karena kebutuhan hidup disana bisa dua kali lipat dengan hidup di Ngayogyokarto hadiningrat, Jogja tuh murah mas bro.. sampe inget ungkapan temenku kalo ada jual makanan mahal di Jogja berarti dia telah menyalahi amandemen undang2 perpanganan jogjakarta.

Suatu waktu seorang anggota DPR dari dinas kependudukan Jogjakarta menyebutkan secara statistik Jogjakarta kalah standar dengan kota kota besar lain dalam hal penghasilan, tapi disisi lain Jogjakarta mengungguli kota kota besar tersebut dalam hal kesejahteraan masyarakat, loh kok bisa?? Sudah dibilang hidup di jogja tuh ga perlu kaya mas bro, dengan penghasilan sedang di Jogja sudah akan bisa hidup nyaman disini, kesejahteraan tercapai. Jogja akan tetap istimewa untuk para pendatang dan untuk warga pribuminya selama semua bisa menjaga adat istiadat dengan baik dan menghindari perselisihan, meski banyak pedagang dari berbagai daerah, meski banyak mahasiswa dari penjuru nusantara yang belajar di Jogja tapi pesona kota ini tidak akan pernah hilang, selama kita semua penghuni kota ini bisa menjaganya dengan baik.

Haidar – Gresik

about haidar..

Dilahirkan di kota Pudak Gresik pada tanggal 15 september  1990 oleh keluarga yang cukup elit alias ekonomi sulit… tapi hal itu gak membuat dia minder meski tumbuh dengan hidup yang pas-pasan, sedengan, gak karu-karuan tapi tetep aja bisa menempuh segala aktivitas dan kewajibannya dengan sebaik mungkin termasuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, hal tersebut tentu gak luput dari rahmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Haidar dan keluarganya sehingga bisa tetep ngelanjutin hidup. Alhamdulillah

Tumbuh besar disebuah desa kecil di barat kota Gresik, Desa Kalirejo Dukun. arek ndeso dunkz.. katrok pasti yaw…!! engga segitunya kaleee gitu-gitu dia juga ngerti teknologi jadi gak kuper ka’ lu-lu pade…. lumayan lah bisa mengaplikasikan ilmu yang dia dapat di bangku sekolah, ilmu yang didapat kan emank buat diamalin gak buat disimpen sendiri aje masa’ mau dibawa mati mank!! 

Sejak kecil dia telah dididik, dibimbing dan dibesarkan dalam kalangan muslim bapak musli dan ibu muslimah bahkan telah memperdalam ilmu agamanya sejak TK Aisyiyah berlanjut ke Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah..keren cuy, ideologi islam yang jadi basic hidupnya menjadikan jalan hidupnya pun searah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah(narsiezz nech..) emang gak sepenuhnya sich hidupnya searah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dia pun menyadari betul itu tapi usaha untuk ke arah itu tetep ada n’ diusakhakan selalu olehnya.

Tumbuh dikalangan umat islam memang menjadi harapan setiap orang apabila orang itu benar-benar sadar akan segala kenyataan yang terjadi pada anak-anak muda pada masa sekarang ini terjadinya adalah  karena kurang terbekalinya mereka dengan pendidikan islam padahal mereka mengaku sebagai orang islam, mulai dari tawuran pelajar, nge-drugs, sampe’ sex bebas pun makin meningkat tajam seiring kurangnya pengawasan para orang tua terhadap anaknya dan kurangnya pembekalan agama terhadap anak itu sendiri, na’udzubillahi min dzalik

Haidar gak pernah menyesali itu dia justru bersyukur telah dibekali dengan agama yang kuat jadi gak salah dech orang tua dia nyekolahin dia di madrasah,he3x.. bagi dia besar di madrasah emang ada suka dukanya sich kalo diinget2 kadang pengen juga seperti orang2 diluar sana yang bebas semaunya ngelakuin apapun gak ada batasan.astaghfirullah… justru islam hadir adalah untuk meluruskan hal itu maka beruntunglah loe2 yang baca ini yang ngerasa menjadi bagian dari islam (dienul haq).

Bekal dari madrasah emang masih dirasa sampe’ kapanpun oleh Haidar termasuk sampai saat sekarang ini saat telah menginjak bangku perkuliahan. Tujuh belas tahun dia tumbuh besar bersama orang tuanya di desa pagi-sore pulang-pergi dari rumah ke pondok pesantren Maskumambang tempat dia belajar dan menuntut ilmu. Lain ceritanya ketika dia telah lulus Madrasah Aliyah dan menginjak tingkatan baru dia memilih Jogja sebagai tempat labuhan dia berikutnya mencoba hidup jau dari keluarga dan orang tua yang telah lama mendidiknya, dia berharap suatu saat nanti bisa membawa nama baik keluarganya dan bisa membanggakan kedua oarng tuanya, bapaknya Abdul Adhim alm. yang telah berjasa besar pada pertumbuhan hidupnya sampai sekarang semoga Allah membalas beliau dengan pahala yang besar amien, ibunya Nichlah yang telah mendidik, merawat, mengasuh Haidar sampai mengerti apa itu hidup semoga kelak Allah juga membalasnya dengan yang besar amien. Teriring salam sayang dan cinta dari Haidar untuk bapak dan ibuku.                                                  hai_darali@yahoo.co.id

Sifat-Sifat Dasar Sistem Kapitalis

raksasa 

Dalam sebuah perjuangan, kita harus tahu siapa kawan dan siapa lawan. Musuh kita adalah kapitalisme. Tetapi apakah kapitalisme itu?

Jawabannya mungkin tampak sederhana. Kapitalisme bukankah sebuah sistem dimana sejumlah individu yang kaya memiliki pabrik-prabrik dan perusahaan lainnya? Bukankah para kapitalis ini bersaing pada sebuah pasar bebas, tanpa perencanaan yang terpusat, dengan hasil bahwa sistem perekonomian sering jadi kacau dan acapkali mengalami krisis?

Jawaban untuk menghindari keadaan seperti itu juga tampaknya jelas, ialah menyita industri dari para individu itu (nasionalisasi), dan membiarkan negara untuk merencanakan ekonominya.

Menurut kebanyakan orang yang berhaluan kiri, hal-hal diatas dianggap merupakan inti dari ajaran Marxisme. Tetapi dewasa ini permasalahan-permasalahan diatas tidak dapat dilihat sesederhana itu. Pada satu sisi, banyak perusahaan di bawah sistim kapitalis dewasa ini tidak lagi dikontrol oleh para individu. Secara formal perusahaan-perusahaan itu dimiliki oleh para pemegang saham, tapi kenyataannya perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors dijalankan oleh para pejabat perusahaan. Sedangkan bentuk perusahaan-perusahaan lainnya adalah perusahaan negara seperti BUMN di Indonesia. Namun kaum buruh juga dieksploitasi dalam perusahaan tersebut.

Di sisi yang lain, masyarakat yang telah meninggalkan kepemilikan swasta dan memilih rencana-rencana ekonomi yang terpusat tidak tampak menarik lagi saat ini. Negara-negara seperti di bekas Uni Soviet telah menteror kelas buruhnya, sedangkan para birokrat yang mengelola pabrik-pabrik. Dan pada akhirnya masyarakat itu juga mengalami krisis ekonomi dan politik.

Saat ini Cina mencoba mengambil alih beberapa aspek pasar bebas ke dalam kebijakan ekonomi mereka, karena takut tidak mampu untuk tetap bersaing dengan negara-negara kapitalis barat.

Jadi keseluruhan arti kapitalisme dan sosialisme, dan perbedaan-perbedaan diantara kedua sistem itu, perlu dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dewasa ini.

Disini, ide-ide Karl Marx sangatlah penting. Dia sama sekali tidak menganggap kepemilikan alat-alat produksi oleh individu swasta merupakan masalah utama kapitalisme. Yang ia tolak adalah sebuah situasi dimana alat produksi dikontrol oleh minoritas — dalam berbagai bentuk — untuk mengeksploitasi mayoritas.

Eksploitasi semacam ini mengambil bentuk dalam hubungan sosial di tempat kerja. Yakni para pekerja yang tidak memiliki perangkat produksi, dan tidak memiliki komoditi untuk dijual sehingga mereka harus menjual tenaga kerjanya untuk gaji (wage labour system). Ini berarti mereka tidak memiliki kontrol dari hasil kerjanya. Dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini, tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas.

Justru sebaliknya, setiap kapitalis akan didorong oleh kompetisi untuk membangun usaha dengan mengorbankan orang lain. Seperti yang dikatakan Marx, ‘Akumulasi! Akumulasi! itu adalah nabi-nabi baginya’. Ini berarti yang kuat memakan yang lemah, dan sistemnya akan turun secara drastis sampai mengalami krisis ekonomi.

Marx, menyebut kondisi seperti ini keterasingan (atau alienasi) pekerja, dan salah satu slogannya yang sangat terkenal adalah ‘penghapusan sistem wage labour”.

Di dunia moderen, modal memiliki bentuk yang bermacam-macam. Di mancanegara terjadi swastanisasi perusahaan-perusahan milik negara. Negara-negara lain seperti Swedia atau Italia masih memiliki sektor negara yang besar, sedangkan di Cina dan Kuba perencanaan ekonominya masih dilakukan secara terpusat.

Tetapi di semua negara itu analisa fundamental Marx masih sangat relevan. Alat-alat produksi masih dikontrol oleh minoritas — meskipun komposisinya sangat bermacam-macam dari para pengusaha individu melalui sektor swasta dan birokrat yang bekerja di sektor publik.

Para pekerja menjual tenaga mereka untuk mendapatkan gaji, dan tidak memiliki kontrol terhadap proses produksi atau barang-barang yang mereka hasilkan.

Produksi dilaksanakan dengan jalan kompetisi, baik dalam skop kecil, persaingan antar perusahaan maupun dalam skop besar atau nasional, antar negara, yang dipimpin oleh aparatus negara.

Kompetisi antar negara juga memiliki bentuk yang lain yaitu kompetisi militer. Bekas negara Uni Soviet selalu mendorong ekonominya berjalan secara efisien, karena harus bersaing dengan Amerika Serikat dalam hal persenjataan. Kaum buruh di Uni Soviet dihisap oleh birokrasi yang tengah berkuasa guna kompetisi militer tersebut. Kami menyebut bentuk ekonomi yang dijalankan oleh rezim Soviet itu “Kapitalisme Negara”.

Apapun bentuk kompetisi itu, hasilnya selalu sama: “Akumulasi! Akumulasi! itulah nabi-nabinya!” Sedangkan para pekerja adalah korbannya. Jadi apa yang perlu dilakukan? Jawabannya ada pada sistem sosialis yang sejati, yang berarti pekerja sendiri yang harus mengontrol proses produksi, dan memproduksi untuk kebutuhan manusia, bukan untuk kebutuhan kompetisi.

Kontrol pekerja terhadap produksi — yang berkaitan erat dengan kontrol mereka secara demokratis terhadap negara — dapat diterapkan di sebuah negara secara sementara. Namun seperti yang kita lihat, tekanan kompetisi berlangsung secara internasional. Maka untuk jangka panjang, sosialisme mesti diciptakan di tingkat internasional.

 

us_israel_flag1apa pendapat anda terhadap

dua bendera negara ini??

tolong beri komentar…

benarkah dua negara ini yang menjadi

aktor dan dalang dibalik krisis kemanusiaan

di palestina saat ini???

tafsir al-qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah

            Al Qur`an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Setidaknya itulah yang diindikasikan oleh surat al Baqarah ayat 185. Di samping itu, dalam ayat dan surat yang sama, diinformasikan juga bahwa al Qur`an sekaligus menjadi penjelasan (bayyinaat) dari petunjuk tersebut sehingga kemudian mampu menjadi pembeda (furqaan)-antara yang baik dan yang buruk. Di sinilah manusia mendapatkan petunjuk dari al Qur`an. Manusia akan mengerjakan yang baik dan akan meninggalkan yang buruk atas dasar pertimbangannya terhadap petunjuk al Qur`an tersebut.

            Al Qur`an adalah kalaamullaah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dengan media malaikat Jibril as. Dalam fungsinya sebagai petunjuk, al Qur`an dijaga keasliannya oleh Allah swt. Salah satu hikmah dari penjagaan keaslian dan kesucian al Qur`an tersebut adalah agar manusia mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan benar-menurut Sang Pencipta (baca: Allah ‘azza wa jalla) sehingga kemudian selamat, baik di sini, di dunia ini dan di sana , di akhirat sana . Bagaimana mungkin manusia dapat menjelajahi sebuah hutan belantara dengan selamat dan tanpa tersesat apabila peta yang diberikan tidak digunakan, didustakan, ataupun menggunakan peta yang jelas-jelas salah atau berasal dari pihak yang tidak dapat dipercaya? Oleh karena itu, keaslian dan kebenaran al Qur`an terdeterminasi dengan pertimbangan di atas agar manusia tidak tersesat dalam mengarungi kehidupannya ini dan selamat dunia-akhirat.

            Menurut Syamsuddin Arif, Ph. D, dalam bukunya yang berjudul Orientalis dan Diabolisme Intelektual, ‘serangan’ para orientalis terhadap otentisitas al Qur`an begitu telah lama dan masih gencar dilakukan. Kenyataan ini semakin memprihatinkan dengan munculnya beberapa sarjana muslim yang ‘ikut-ikutan’ meniru para orientalis tersebut. Nashr Hamd Abu Zayd (Mesir), Fazlur Rahman (Palestina), dan Mohamed Arkoun (Aljazair) adalah beberapa nama yang dimaksud. Mereka, setelah menempuh studi Islam di Barat, ‘silau’-atas dasar kerendahan diri (inferiority complex) karena tidak memahami khazanah peradaban Islam-dengan perkembangan keilmuan di Barat, khususnya dalam bidang interpretasi teks kitab suci (baca: Bibel) sehingga dengan ‘brutal’ mengambil ‘mentah-mentah’ apa yang ada di Barat untuk kemudian digunakan terhadap apa yang ada dalam Islam.

            Hermeneutik adalah salah satu ‘oleh-oleh’ dari Barat yang ‘diujicobakan’ oleh para sarjana muslim semacam Nashr Hamd Abu  Zayd di atas untuk kemudian diterapkan dalam memahami (baca: tafsiir) kitab suci umat Islam, yaitu al Qur`an al Karim. Sebagai sebuah metodologi memahami sebuah teks (baca: kitab suci), Hermeunetik lahir sebagai (semacam) ‘konsekwensi logis’ dari teks-teks Bibel yang memang secara inheren begitu problematik, salah satunya yang terkait dengan banyaknya versi-versi Bibel yang bermunculan dan cenderung menegasikan yang lainnya (kontradiktif). Hal ini disebabkan bahwa Bibel yang ‘disucikan’ oleh umat Kristen sekarang ini sebenarnya bukanlah kitab suci. Dia hanya karangan-karangan manusia yang jelas-jelas tidak ‘suci’-dari dosa. Prinsip-prinsip dasar dari Hermeunetik seperti, antara lain sebuah teks tidak ada yang suci oleh karena itu layak dikritisi keabsahannya, sebuah teks terikat dengan konteks sejarah di mana ia lahir oleh karena itu bersifat relatif dan temporer, dan yang lainnya tidak lebih dari sekedar bentuk ‘akomodasi’ (baca: rasionalisasi) dari kerancuan Bibel itu sendiri agar dapat dipahami dan diterima oleh umat Kristen. Sampai sekarang, konsep trinitas yang menjadi fondasi keberagamaan umat Kristenpun masih menimbulkan kontroversi dan belum ada kata sepakat di kalangan umat Kristen sendiri.

Hal seperti di atas tidak terjadi dalam sejarah al Qur`an, dan umat Islam umumnya, dari awal turun al Qur`an hingga sekarang. Al Qur`an berbeda dengan Bibel yang dipegang umat Kristen sekarang. Al Qur`an lahir dari bacaan, bukan teks. Malaikat Jibril mendatangi nabi Muhammad saw. di Gua Hira tidak dengan tulisan surat al `Alaq ayat satu sampai lima tetapi dengan bacaan “iqra`”-dan seterusnya. Al Qur`an sampai kepada kita dengan media yang mutaawatir. Maksudnya, banyak sekali para penghafal al Qur`an, pada masa turunnya hingga sekarang. Fakta ini menyampaikan kita pada kesimpulan bahwa mustahil ada pemalsuan atau perubahan dalam al Qur`an karena dari kebanyakan para pengahafal itu substansi dari bacaan al Qur`annya relatif sama kecuali dalam qiraa`ah (dialek bacaan). Ini adalah kesepakatan jumhuur (mayoritas) ulama.

Dari kasus di atas, nampak sekali bahwa kita, umat nabi Muhammad saw., cenderung ‘silau’ dengan perkembangan keilmuan dan metodologi ilmiah di Barat dan di sisi lain tidak secara serius mendalami khazanah peradaban kita sendiri (baca: Islam). Hal ini mengakibatkan kita memakai metodologi-metodologi Barat untuk mengekplorasi sumber ajaran agama kita (baca: al Qur`an dan as Sunah) yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan dan pemahaman yang justru membuat pelaku dan umat Islam yang mengikutinya semakin jauh dari Allah swt. atau ‘minimalnya’ mengaleniasi Allah swt. dari ranah publik atau dari dunia ini (baca: sekularisme). Atas hal ini, maka penggalian dan publikasi kembali khazanah-khazanah keilmuan Islam, khususnya yang terkait dengan interpretasi al Qur`an sangat mendesak untuk dilakukan untuk mencegah lahirnya “Nashr Hamd Abu Zayd” yang lain sehingga kita mampu memahami al Qur`an dengan benar yang terpantul dari semakin dekatnya kita kepada Allah swt. berdasarkan pemahaman kita tersebut.

A.                Pengertian Tafsir dan Ta`wil

1)                  Tafsir

Lafazh tafsiir, secara etimologis bermakna menjelaskan; mengungkap; memaparkan; menerangkan sesuatu (teks/nash) yang abstrak. Kata tafsiir sendiri ber-wazan (baca: sebanding; sama) dengan wazan (baca: akar bentuk kata dalam ilmu sharaf; morfologi) taf’iil yang berasal dari kata (mashdar) al fasr(الفسر) . Sinonim dari kata kerja al fasr (baca: fassara) adalah abaana (أَبَا نَ) yang juga berarti menjelaskan. Kata at tafsiir dan al fasr mempunyai arti menjelaskan sesuatu yang tertutup.

Menurut az Zarkasyi tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitaabullaah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, menjelaskan makna-maknanya, dan mengeluarkan hukum dan hikmahnya.

Menurut Abu Hayyan, tafsir, secara  terminologis merupakan ilmu yang membahas tentang metode mengucapkan lafazh-lafazh al Qur`an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dari makna-makna yang dimungkinkan baginya (baca: penetapan hukum) ketika tersusun dari hal-hal yang melengkapinya (Manna’ Khalil Qaththan: 2006, terjemahan).

Dari dua definisi dapat disimpulkan bahwa tafsir merupakan pengetahuan sistemik tentang bagaimana membaca al Qur`an dengan benar dan indah sesuai dengan ketentuan tajwid dan tahsiin atau sesuai dengan qira`ah yang diakui validitasnya. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memahami bacaan al Qur`an tersebut untuk menemukan petunjuk-petunjuknya bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tahap ini merupakan tahap yang dimaksud dengan “mengungkapkanyang tertutup”. Maksudnya, bacaan; teks; nash al Qur`an yang telah dibaca tersebut terdapat petunjuk-petunjuk yang secara implisit diletakkan oleh Allah swt. dalam firman-firman-Nya (baca: al Qur`an). Hal-hal yang implisit inilah yang kita ungkap dan kita buka sehingga jelas dan dapat kita pahami maksudnya. Tahap terakhir adalah bagaimana menetapkan hukum-hukum dari petunjuk-petunjuk tersebut-yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Secara umum hukum terbagi menjadi dua, yang boleh dan yang tidak boleh. Pembahasan selanjutnya akan berujung pada kajian ushul fikih.

 

2)                  Ta`wil

Kata ta`wil diambil dari kata aul  (أوْل) yang berarti “kembali” dan “berpaling”. Dalam ilmu sharaf, kata ta`wil(تأويل)  mengadung makna transitif (ta’diyyah) sehingga mempunyai arti mengembalikan dan memalingkan. Variasi makna dari kata ta`wil antara lain (Abu Anwar: 2005):

a)         Kembali atau mengembalikan, yakni mengembalikan makna pada proporsi yang sesungguhnya.

b)         Memalingkan, yakni memalingkan suatu lafazh tertentu yang mempunyai sifat khusus dari makna lahir ke makna batin lafazh itu, karena ada ketetapan dan keserasian dengan maksud yang dituju.

c)         Menyiasati, yakni dalam lafazh tertentu atau kalimat-kalimat yang mempuyai sifat khusus yang memerlukan siasat yang jitu untuk menemukan maksudnya yang setepat-tepatnya.

Menurut sebagian ulama, ta`wil adalah mengembalikan sesuatu kepada tujuan asalnya, yakni menerangkan apa yang dimaksud dari padanya. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa ta`wil merupakan upaya menerangkan salah satu makna yang dapat diterima oleh lafazh (Ash Shiddieqy: 1987)

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan men-ta`wil-kan al Qur`an adalah mengalihkan makna eksplisit/denotatif dari ayat-ayat al Qur`an kepada makna yang lain sehingga pemahaman terhadap ayat tersebut tidak bertentangan dengan jiwa ajaran Islam yang telah pasti.

3)               Perbedaan

Menurut Drs. Abu Anwar, M. Ag. bukunya yang berjudul Ulumul Qur`an : Suatu Pengantar, perbedaan yang diasumsikan dalam ‘hubungan’ antara makna tafsir dan takwil bukanlah perbedaan yang bersifat paradoksal[1]. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan dalam kekhususan masing-masingnya (baca: spesifikasi) dan sifat-sifat dari keduanya. Sungguhpun demikian, ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa tafsir dan ta`wil itu sama, salah satunya Abu ‘Ubadah[2] .

Perbedaan antara keduanya dapat dipaparkan dalam tabel di bawah ini.

 

No.

Tafsir

Ta`wil

1.

Menjelaskan lafazh tunggal

Menjelaskan makna dan susunan kalimat

2.

Menjelaskan makna lafazh yang memiliki satu arti

Menjelaskan makna lafazh yang lebih dari satu (baca: ambigu) karena ada beberapa indikator.

3.

Berkaitan dengan riwaayah

Berkaitan dengan diraayah    

4.

Menjelaskan makna yang diambil dari bentuk yang tersurat (bil ‘ibaarah; eksplisit)

Menjelaskan makna yang diambil dari bentuk yang tersirat (bil isyaarah; implisit)

5.

Menjelaskan ayat-ayat muhkam

Menjelaskan ayat-ayat mutasyaabih

6.

Menjelaskan fenomena

Menjelaskan nomena (hakikat)

 

B.                 Ilmu-Ilmu Penunjang Tafsir

            Tafsir bukanlah aktifitas yang ringan dan sepele. Tidak sembarang orang bisa dan bebas melakukannya. Dalam hal ini, nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa saja yang mengatakan sesuatu mengenai al Qur’an tanpa landasan ilmu atau dengan opininya sendiri, maka ia telah memesan tempat duduknya di neraka” (HR Imam Tirmidzi). Oleh karena itu, dalam menafsirkan sebuah ayat al Qur’an diperlukan ilmu-ilmu lain yang mampu menunjang validitas hasil penafsirannya.

            Dari sisi yang berbeda, ilmu-ilmu ini merupakan syarat bagi seseorang yang akan menafsirkan al Qur`an. Ilmu-ilmu ini wajib dikuasai oleh siapa saja yang akan menafsirkan al Qur`an, tentunya bagi orang yang beragama Islam dan telah dewasa (mukallaf; baligh)

            Ilmu-ilmu yang dapat menunjang kevalidan sebuah penafsiran al Qur’an sangat banyak. Tetapi dalam kesempatan ini hanya akan dibahas beberapa saja diantara ilmu-ilmu tersebut, antara lain:

1)                                                                  Ilmu Nahwu

Nahwu adalah ilmu tentang pokok, yang bisa diketahui dengannya tentang harkat (baris) akhir dari suatu kalimat baik secara i’rab atau mabni (baris atau harkat (syakal) yang dimaksud adalah baris atau harkat terakhir dari suatu kata (dalam bahasa arab disebut kalimah). Misalnya kata اَلْحَمْدُ, maka yang dipelajari dalam ilmu ini adalah harkat terakhir dari kata di atas yaitu dhammah dari huruf dal (ُ د ).

2)                  Ilmu Sharaf

Secara bahasa (lughah) memiliki arti perubahan kata (Kamus Arab-Indonesia Al Munawwir). Sedangkan secara istilah, sharaf adalah perubahan bentuk kata dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, digunakan kata teman, berteman, pertemanan, menemani, ditemani, dan lain-lain. Maka begitu juga dengan bahasa Arab, contohnyaفَعَلَ-يَفْعُلُ-فَعْلاً  dan seterusnya.

3)                 Ilmu Qiraa`aat

Menurut bahasa, qiraa`aat (قرائات) adalah bentuk jamak dari  kata qiraa`ah  قراءة)) yang merupakan isim mashdar dari قَرَأَ yang artinya bacaan. Pengertian qira`at menurut istilah cukup beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh masing-masing ulama yang mendefinisikannya. Berikut ini akan diberikan dua pengertian qira`at menurut istilah.

Qiraa`at menurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan lafal-lafal al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya terbatas pada lafal-lafal al-Qur’an yang memiliki perbedaan pelafalan saja. Ia tidak menjelaskan bagaimana perbedaan qira`at itu dapat terjadi dan bagaimana pula cara mendapatkan qira`at itu.

Ada pengertian lain tentang qira`at yang lebih luas daripada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu pengertian qira`at menurut pendapat al-Zarqani. Al-Zarqani memberikan pengertian qira`at sebagai suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurraa` yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur`an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan thuruq (jalan-jalan sanad) darinya, baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.

Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qiraa`at yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah qira`at, riwayat dan tariqah. Berikut ini akan dipaparkan pengertian dan perbedaan keduanya.

Qira`at adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurraa` tujuh, sepuluh atau empat belas, seperti qira`at Nafi, qira`at Ibn Kasir, qira`at Yaqub dan lain sebagainya.

Sedangkan riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurraa` yang berjumlah tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun dan Nafi atau riwayat Warsy dan Nafi.

Adapun yang dimaksud dengan tariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qira`at dari periwayat qurraa` yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq dan Warsy atau riwayat Warsyi min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan qira`at Nafi min riwayati Warsy min tariq al-Azraq[3].

4)                                                                  Ilmu Ushul Fiqih

Ushul Fiqih (bahasa Arab: أصول الفقه ) adalah ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori dan sumber-sumber secara terinci dalam rangka menghasilkan hukum Islam yang diambil dari sumber-sumber tersebut[4].

Dalam ilmu ini dapat dipahami ijmal, tabyin, ‘aam, khusush, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan, ptunjuk larangan, nasakh[5], dan lain sebagainya yang terdapat dalam ilmu ushul fiqih.

5)                  Ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’

Ilmu Ma’ani mempelajari tentang khasyiat-khasyiat susunan pembicaraan dari jurusan memberi pengertian. Ilmu Bayan mempelajari tentang khasyiat-khasyiat susunan perkataan yang berlainan. Ilmu Badi’ mempelajari keindahan-keindahan pembicaraan sehingga[6] dapat diungkap dimensi estetis dari sebuah pembicaraan.

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat al Qur`an itu sendiri (asbaabun nuzuul).

 

C.                Metode Penafsiran al Qur`an

Setelah membahas perkembangan tafsir di masa nabi Muhammad saw. hingga para sahabat, Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir menyimpulkan bahwa dalam menafsirkan al Qur`an, para sahabat terbagi ke dalam dua madrasah (aliran), yaitu madrasah ahlil atsar dan madrasah ahlil ra`yi[7]. Madrasah ahlil atsar kemudian terkenal dengan metode penafsirannya yang disebut tafsiir bil ma`tsuur (تفسير با لمأثور) dan madrasah ahlir ra`yi kemudian terkenal dengan metode penafsirannya yang disebut tafsiir bil ma’quul( تفسير با لمعقول)

 

Berikut ini akan dibahas masing-masing dari keduanya.

1)                  Tafsiir bil Ma`tsuur (با لمأثور تفسير )

Tafsiir bil Ma`tsuur ialah metode penafsiran yang hanya menafsirkan al Qur`an dengan atsar (kutipan-kutipan dari nabi Muhammad saw.) atau riwayat. Ayat al Qur`an, hadis Rasul dan pendapat-pendapat para sahabat merupakan satu-satunya alat yang digunakan sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al Qur`an[8].

Prosedur dalam proses penafsiran bil ma`tsuur adalah menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, dan atau menafsirkan ayat al Qur`an dengan Sunnah/hadis nabi Muhammad saw., dan atau menafsirkannya dengan keterangan para mufassirin dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para ulama salaf[9].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa meyakini sesungguhnya nabi Muhammad saw. telah menjelaskan kepada para sahabat makna-makna al Qur`an sebagaimana telah menjelaskan kepada mereka lafazh-lafazhnya[10].

Semua ayat-ayat al Qur`an telah dijelaskan oleh nabi Muhammad saw., sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam menafsirkan al Qur`an setelah al Qur`an itu sendiri, kepada para sahabat. Oleh karena itu, untuk menafsirkan al Qur`an maka metode yang tepat adalah mencari hadis yang berkaitan dengan ayat tersebut setelah tidak didapatkan ayat al Qur`an yang lain yang menjelaskan ayat tersebut. Apabila memang tidak ada ayat dan atau hadis nabi Muhammad saw. yang dapat menafsirkan sebuah ayat al Qur`an maka yang digunakan adalah pendapat-pendapat para sahabat karena mereka lebih tahu tentang asbaabun nuzuul dan tingkat keimanan juga intelektualitasnya adalah yang tertinggi di kalangan pengikut Rasulluloh saw.

Tafsir bil ma`tsuur adalah tafsir yang harus diikuti dn dipedomani karena ia adalah jalan yang pengetahuan yang benar dan merupakan jalan paling aman untuk menjaga diri dari ketergelinciran dan kesesatan dalam  memahami al Qur`an[11].

Beberapa kitab tafsir bil ma`tsuur yang terkenal diantaranya tafsir Ibnu Abbas dengan judul Tanwiirul Miqbas min Tafsiiri Ibn Abbas, tafsir at Thabari dengan judul Jamii’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur`an, tafsir Ibnu ‘Atiyyah dengan judul Muharrarul Wajiiz fi Tafsiiril Kitaabil ‘Aziz, dan tafsir Ibnu Katsir dengan judul Tafsiirul Qur`aanul ‘Azhiim (Manna’ Khalil Qaththan: 2006).

2)                  Tafsir bil Ma’quul ( تفسير با لمعقول)

Cara penafsiran bil ma’qul atau lebi populer lagi bir ra`yi menambahkan fungsi ijtihad dalam proses penafsirannya, di samping menggunakan apa yang digunakan oleh tafsir bil ma`tsuur. Penjelasan-penjelasannya bersendikan kepada ijtihad dan akal dan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip bahasa Arab dan adat-istiadat orang Arab dalam mempergunakan bahasanya[12].

Husayn al Dhahaby menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tafsir bir ra`yi adalah penafsiran al Qur`an atas dasar ijtihadnya yang berlandaskan pengetahuannya tentang penuturan bangsa Arab dan arah pembicaraan mereka serta pengetahuannya tentang lafal bahas Arab dan makna yang ditunjukkannya dengan menjadikan syair jahily sebagai acuan dan panduannya. Meskipun demikian, lanjut al Dhahaby, asbaabun nuzuul, naasikh wa mansuukh, dan alat bantu lainnya merupakan pengetahuan-pengetahuan yang tetap harus dikuasai dan digunakan dalam penafsiran ini (Kusmana dan Syamsuri: 2004).

Sedangkan menurut Musa’id Muslim, tafsir bir ra`yi adalah penjelasan terhadap isi kandungan al Qur`an atas misi spesifik dari subjektifitas pribadi mufassir yang hanya berlandaskan ilmu bahasa, pengetahuan budaya Arab, dan syariah yang masih umum. Tegasnya, metode tafsir ini tidak menjadikan atsar nabi Muhammad saw., para sahabat dan tabi’innya sebagai prioritas utama dalam menafsirkan al Qur`an (Kusmana dan Syamsuri: 2004).

Menurut Manna’ Khalil Qaththan dalam bukunya Mabaahits fii ‘Ulumul Qur`an, menafsirkan al qur`an dengan akal dan ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram, tidak boleh dilakukan. Menurutnya, cara penafsiran seperti ini dilakukan oleh mayoritas ahli bid’ah dan madzhab batil dalam rangka melegitimasi golongannya dengan memelintir ayat-ayat al Qur`an agar sesuai dengan kehendak hawa nafsunya.

Kitab-kitab tafsir bir ra`yi diantaranya tafsir ar Razi yang berjudul Mafaatihul Ghaib, tafsir Ibnu Hayyan yang berjudul Al Bahrul Muhiit, dan tafsir az Zamakhsyari yang berjudul Al Kasysyaf ‘an Haqaa`iqit Tanziil wa ‘Uyuunil Aqaawiil fii Wujuuhit Tanwiil (Manna’ Khalil Qaththan: 2006).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Qaththan, Manna’ Khalil. 2006. Studi Ilmu-Ilmu al Qur`an (terjemahan Mabaahits fii ‘Uluumil Qur`an). Jakarta: Litera AntarNusa.

 

Anwar, Abu. 2005. Ulumul Qur`an Suatu Pengantar. Pekanbaru: Penerbit AMZAH

 

Arif, Syamsuddin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Intelektual. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Ash Shiddieqy, M. Hasbi. 1987. Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang.

 

Kusmana dan Syamsuri. 2004. Pengantar Kajian al Qur`an. Jakarta: kerjasam Penerbit Pustaka Al Husna Baru dengan UIN Jakarta Press.

 

Jurnal Online, http://uin-suka.info/ejurnal Powered by Joomla! Generated: 18    December, 2008, 11:40.

 

http: //id. wikipedia. org/ushul-fiqih




[1] Paradoksal berarti bersifat paradoks, seolah-olah terjadi pertentangan (berlawanan) dengan    pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

[2] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur`an/ Tafsir. ( Jakarta, Bulan Bintang, 1987), hlm. 181.

[3]  Jurnal Online, http://uin-suka.info/ejurnal Generated: 18 December, 2008, 11:40.

[4]   http: //id. wikipedia. org/ ushul-fiqih

[5]   M. Hasbi Ash Shiddieqy, op. cit., hlm. 193.

[6]   Ibid. hlm. 193.

[7]   Ibid. hlm. 212-213

[8]   M. Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit., hlm. 213

[9]   Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), hlm. 150.

[10] Manna’ Khalil Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu al Qur`an-terjemahan Mabaahits fii ‘Uluumil Qur`an (Jakarta:    Litera AntarNusa, 2006), hlm. 483.

 

 

[11]   Manna’ Khalil Qaththan, Ibid. hlm. 486

[12]   Ash Shiddieqy, Ibid. hlm. 213.

 

why………??

My life is brilliant.

My life is brilliant
my life is pure
I saw an angel
of that I’m sure,
She smiled at me on the subway,
she was with another man
but I won’t lose any sleep on that
cause I got a plan.

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful, it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I’ll never be with you.

Yes she caught my eye,
as I walked on by
she could see from my face
that I was flying high
and I don’t think that I’ll see her again
but we shared a moment
that will last til the end.

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I’ll never be with you.

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalala La

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
There must be an angel with a smile on her face
when she thought up that I should be with you.
But it’s to time face the truth,
cause I’ll never be with you

you’re beautiful

My life is brilliant.

My life is brilliant
my life is pure
I saw an angel
of that I’m sure,
She smiled at me on the subway,
she was with another man
but I won’t lose any sleep on that
cause I got a plan.

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful, it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I’ll never be with you.

Yes she caught my eye,
as I walked on by
she could see from my face
that I was flying high
and I don’t think that I’ll see her again
but we shared a moment
that will last til the end.

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I’ll never be with you.

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalala La

You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
There must be an angel with a smile on her face
when she thought up that I should be with you.
But it’s to time face the truth,
cause I’ll never be with you

perkembangan teori manajemen

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN

Peristiwa penting yang mempengaruhi Ilmu Manajemen adalah revolusi industri di Inggris.Revolusi Industri di Inggris ditandai dengan penggunaan mesin menggantikan tenaga manusia yang berakibat berpindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah ke tempat –tempat yang disebut pabrik, sehingga dibutuhkan teori yang dapat membantu meramalkan permintaan,memberikan tugas pada bawahan dan lain-lain. Sehingga Ilmu Manajemen mulai dikembangkan oleh para ahli.

Perkembangan teori manajemen dapat dilihat dari aliran pemikiran manajemen dan pendekatan manajemen, sebagai berikut :

  1. Teori Manajemen Klasik

Ada dua tokoh manajemen yang mengawali munculnya manajemen ilmiah, Robert Owen dan Charles Babbage.

  1. Robert Owen (1771-1858)

Pada permulaan abad 1800, Robert Owen seorang manajer beberapa pabrik kapas di New Lanark Skotlandia, menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi. Dia menemukakan bahwa melalui perbaikan kondisi karyawanlah yang akan menaikkan produksi dan keuntungan (laba), dan investasi yang paling menguntungkan adalah pada karyawan atau “Vital Machines”.

  1. Charles Babbage (1792-1871 )

Charles Babbage, seorang profesor matematika dari Inggris, mencurahkan banyak waktunya untuk membuat operasi-operasi pabrik menjadi lebih efisien. Dia percaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikan produktifitas dan menurunkan biaya. Babbage adalah penganjur pertama pembagian kerja melalui spesialisasi. Kontribusinya yang lain, Babbage menciptakan alat penghitung (kalkulator) mekanis pertama, pengembangan program-program permainan bagi komputer menganjurkan kerjasama yang saling menguntungkan antara kepentingan karyawan dan pemilik pabrik, serta merencanakan skema pembagian keuntungan.

1. Aliran Manajemen Ilmiah

Tokoh-tokoh penting dalam Aliran Manajemen Ilmiah dapat disebutkan antara lain : Robert Owen (1771-1858), Charles Babbge (1792-1871), Frederich W Taylor (1856-1915), Henry L Gantt (1861-1919) serta Frank dan Lilian Gilberth (1868-1924 dan 1878-1972).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

  1. Metode-metode ilmiah yang dikembangkan, seperti :

    • Penerapan prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja (teknik-teknik efesiensi) untuk meninngkatkan produktivitas dan menekan biaya lebih rendah.

    • Seleksi karyawan secara ilmiah.

    • Peningkatan kondisi karyawan (pengembangan, pendidikan, dan kesejahteraan) untuk meningkatkan hasil produksi dan laba.

    • Penggunaaan sistem bagan yang memuat jadwal kegiatan produksi karyawan, dapat diterapkan pada berbagai kegiatan organisasi.

  2. Manajemen Ilmiah yang mementingkan rancangan kerja mendorong para manajer untuk mencari cara terbaik dalam pelaksanaan tugas.

  3. Manajemen Ilmiah mengembangkan pendekatan rasional dalam pemecahan masalah.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

  1. Peningkatan produksi sering kali tidak disertai dengan peningkatan pendapatan.

  2. Upah yang tinggi dan kondisi kerja yang baik bukan hanya disebabkan oleh peningkatan laba perusahaan.

  3. Hubungan manajemen dengan karyawan tetap jauh.

  4. Manajemen ilmiah memandang manusia sebagai suatu yang rasional yang hanya dapat dimotivasi dengan pemuasan kebutuhan ekonomi dan fisik, sehingga aliran ini mengabaikan kebutuhan sosial non bendawi serta kebutuhan mendapatkan kepuasan dari hasil kerjanya.

b. Teori Organisasi Klasik

Henry Fayol (1841-1925) adalah tokoh penting dalam aliran ini. Fayol memberi perhatian utama pada kegiatan manajerial. Kemampuan manajerial dinilai sebagai aspek penting yang paling dibutuhkan dalam operasi perusahaan. Fayol kemudian membagi manajemen dalam lima fungsi :

  1. Perencanaan (planning)

  2. Pengorganisasian (organizing)

  3. Pemberian perintah (commanding)

  4. Pengkoordinasian (coordinating)

  5. Pengawasan (controlling)

Dalam perkembangannya, fungsi ke-3 dan 4 difusikan menjadi fungsi pengarahan (actuating) sehingga di kenal menjadi 4 fungsi standar : planning-organizing-actuating-controlling, sebagaimana yang di gagas oleh George R Terry (1977).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

  1. Konsep keterampilan manajerial dapat diterapkan dalam berbagai tipe kegiatan organisasi.

  2. Pandangannya yang memberikan hal-hal praktis dibandingkan aliran lain menyebabkan banyak diterima oleh para manajer.

  3. Pandangannya juga memberikan kesadaran bagi para manajer akan hal-hal mendasar yang mungkin akan dihadapi dalam setiap organisasi.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

  1. Prinsip-prinsip aliran ini dinilai hanya tepat bila organisasi berada dalam lingkungan yang stabil dan dapat meramalkan secara tepat perubahan lingkungan luar organisasi.

  2. Prinsip-prinsip aliran ini dipandang terlalu umum untuk mengatasi permasalahan organisasi masa kini.

  1. Aliran Perilaku

Aliran ini berkembang oleh sebab aliran klasik dipandang tidak benar-benar membantu pencapaian efisiensi produksi, keserasian kondisi dan situasi kerja.Aliran ini berupaya membantu manajer untuk mengatasi masalah organisasi melalui sisi perilaku karyawan.

Tokoh-tokoh penting dalam aliran perilaku adalah Hugo Munsterberg (1863-1916) dan Elton Mayo (1880-1949).Melalui eksperimen Hawthorne (Mayo), aliran ini mengganti konsep manusia rasional (manusia yang hnya dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi) dengan konsep manusia sosial (Manusia yang dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan sosial melalui hubungan kerja).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

  1. Memberikan pemahaman akan pentingnya motivasi, perilaku kelompok, hubungan antar karyawan, dan kerja bagi manusia.

  2. Meningkatkan sensitifitas (empati) manajer dalam berhubungan dengan bawahan.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

  1. Model dan teori yang ditawarkan dipandang terlalu abstrak dan rumit untuk diterapkan.

  2. Kompleksitas perilaku manusia yang terjadi sering kali mengakibatkan para ahli aliran ini memberikan saran yang berbeda sehingga menyulitkan manajer untuk memilih terapi yang akan digunakan.

  1. Aliran Ilmu Manajemen

Aliran ini mengembangkan prosedur penelitian operasional (Operation Research) dalam mengatasi permasalahan organisasi.Prosedur yang digunakan dimulai dengan analisis masalah sampai usulan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut.

Beberapa sumbangan aliran ini adalah :

  1. Prinsip aliran ini banyak diterapkan dalam pemecahan masalah pada organisasi besar dengan cara :

    • Memecahkan masalah secara matematis

    • Melakukan peninjauan dari berbagai ilmu (multidisiplin)

  2. Aliran ini menggunakan teknik-teknik manajemen ilmiah pada berbagai kegiatan organisasi seperti : penyusunan anggaran, arus uang, jadwal produksi, pengembangan produk, perencanaan tenaga kerja, dll.

Beberapa keterbatasan aliran ini adalah :

  1. Sumbangan aliran ini hanya banyak pada kegiatan perencanaan dan pengawasan, namun tidak pada kegiatan lain (pengorganisasian dan pengarahan).

  2. Sekalipun teknik yang diberikan aliran ini cukup luas dalam mengatasi masalah manajemen, namun dinilai tidak cukup efektif bila mengatasi masalah manusia dalam manajemen.

  1. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem memandang organisasi sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan.Sehingga, dalam pendekatan ini manajer akan memandang organisasi sebagai suatu kesatuan yang merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang lebih luas.Setiap kegiatan dalam suatu bagian organisasi akan mempengaruhi kegiatan pada bagian lain.

Pendekatan ini menekankan perhatian pada dinamika dan sifat keterkaitan antar unsur organisasi dan tugas manajemen. Ia memberikan kerangka dalam merancang tindakan dan mengantisipasi akibat langsung maupun jangka panjang. Perspektif sistem memberiakan kemudahan pada para manajer untk mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan internal dan eksternal perusahaan.

  1. Pendekatan Kontingensi

Pendekatan kontingensi dikembangkan sebagai respon atas sering dijumpainya metode-metode yang efektif untuk situasi tertentu ternyata tidak dapat diterapkan untuk situasi yang lain.Dlam perspektif pendekatan ini, seorang manajer bertugas untuk mengindentifikasi teknik mana yang akan digunakan dalam situasi dan waktu tertentu dalam membantu pencapaian tujuan organisasi. Jadi, satu solusi yang dianggap paling tepat untuk mengatasi masalah manajemen adalah bergantung pada situasi yang dihadapi manajemen. Jawaban ini didasarkan pada kenyataan bahwa situasi, aksi dan hasil merupakan faktor yang saling mempengaruhi dan memiliki ketergantungan satu dengan lainnya.

Selain kelima aliran besar tersebut,sebenarnya sejak 1977 telah berkembang gagasan islamisasi ilmu manajemen. Melalui gerakan islamisasi ilmu pengetahuan – termasuk ilmu manajemen didalamnya – lembaga The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Virginia, Amerika Serikat telah mempelopori dan membuka wacana baru serta memperkaya perkembangan pemikiran manajemen. Oleh karenanya, Selain kelima aliran besar diatas, dapat ditambahkan aliran Manajemen Islami.

BAB III

Aliran Manajemen Islam

Proses Islamisasi ilmu pengetahuan memiliki empat tingkat kepentingan yang berkolerasi erat, yakni :

  1. Kepentingan akidah, dimaksudkan agar umat islam sadar bahwa akidah islam adalah dasar ilmu pengetahuan dan aktifitas keilmuan.

  2. Kepentingan kemanusiaan, adalah konsekuensi logis dari kepentingan pertama bahwa aktifitas keilmuan yang didasarkan dan di kontrol secara imani akan mewujudkan manusia seutuhnya sesuai dengan hakikat penciptaNya.

  3. Kepentingan peradaban, menjadi konsekuensi berikutnya yakni bahwa kehidupan dengan sistem dan segala aktifitasnya yang telah dikendalikan secara imani serta berjalan dalam koridor aturan Allah SWT. Secara konsisten akan membawa manusia kepada peradaban yang agung sebagaimana telah dibuktikan oleh peradaban islam selama 14 abad.

  4. Kepentingan Ilmiah, yakni kepentingan ilmiah dimaksudkan bahwa segala aktifitas keilmuan selalu dapat di pertanggungjawabkan secara horisontal dan secara transendental kehadirat Allah SWT.

Dengan demikian, aliran manajemen islam-sebagaimana proses islamisasi terhadap ilmu-ilmu lainnya – berupaya mendudkan ilmu manajemen dalam perspektif islam seutuhnya.Islam membagi manajemen dalm dua pengertian :

  1. Sebagai Ilmu

  2. Sebagai aktifitas

Sebagai Ilmu, manajemen dipandang sebagai salah satu ilmu umum yang tidak berkaitan dengan nilai peradaban (Hadhoroh) manapun, sehingga hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!